Hati (bahasa Yunani: ἡπαρ, hēpar)
merupakan kelenjar terbesar di dalam tubuh, terletak dalam
rongga perut sebelah kanan, tepatnya di bawah diafragma.
Hati adalah bagian dari sistem pencernaan, tapi itu tidak lebih dari sekedar
proses asupan makanan. Hati bertanggung jawab untuk memproduksi zat yang akan
memecah lemak dan lipid, membuat makanan lebih mudah dicerna. Hati juga
menghasilkan beberapa asam amino, yang penting untuk produksi protein, tanpa
hati tubuh tidak bisa berfungsi. Hati memproduksi banyak kolesterol dalam
tubuh, apakah sehat atau tidak sehat. Selain dari kemampuan produksi, hati juga
bertindak sebagai filter. Ketika zat berbahaya diambil ke dalam tubuh, hati
adalah organ yang bertanggung jawab untuk penyaringan. Misalnya, hati menyaring
alkohol dari darah. Secara sederhana, fungsi utama hati adalah untuk menjaga
keseimbangan dalam tubuh. Hati menetralkan racun yang berbahaya, menciptakan
zat yang diperlukan dan membuang produk limbah dan masih banyak lagi fungsi
hati.
Hati
adalah penggerak bagi manusia. Jika hati kita jahat maka perilaku kita juga
akan sama. Jadi ekuivalen antara hati dengan perbuatan. Seperti apa hati kita ,
sudah tercermin dari akhlak kita sehari-hari. Jika perbuatan kita baik
sudah bisa dipastikan bahwa hati kitapun juga baik. Untuk membentuk pribadi
seperti apa, maka bentuklah hati terlebih dahulu. Untuk membentuk hati ada dua
jalan. Jalan yang pertama ,Yakni perkuat akidah mantabkan dalam hati bahwa
Allah itu Maha Esa. Tanamkan sejak dini konsep “ Laailahaillah” jika hati ini
sudah senantiasa selalu tersambung dengan Allah , maka senantiasa hati inipun
akan terjaga. Dan berdzikir merupakan salah satu jalan agar kita selalu
tersambung dengan sang Khaliq. Adapun jalan yang kedua adalah memperkuat Ibadah
. jadi tidak cukup hanya dengan kita mengingat Allah saja, tapi wujudkanlah
ingat tersebut dengan bentuk yang konkrit, yaitu dengan Ibadah. Awal mula
syetan menggoda kita adalah lewat hati. Syetan itu adalah musuh yang nyata ,
maka hadapilah dan yakinlah dia akan kalah.
Hati
diibaratkan raja, sedang aggota badan adalah prajuritnya. Bila rajanya baik,
maka akan baik pula urusan para prajuritnya. Bila buruk, maka demikian pula
urusan para prajuritnya. Oleh sebab itu, dalam Islam amalan hati memiliki
kedudukan yang agung. Bisa dikatakan, pahala dari amalan hati lebih besar
daripada amalan badan. Sebagaimana dosa hati lebih besar daripada dosa badan.
Oleh karena itu kita dapati; dosa kufur dan kemunafikan lebih besar daripada
dosa zina, riba, minum khamr, judi dst.
Hati
adalah standar kebaikan amalan badan. Ia ibarat pemimpin bagi badan. Baiknya
hati akan berpengaruh pada baiknya amalan badan. Dan buruknya hati akan
berpengaruh pada buruknya amalan badan. Rasulullah shallahu’alaihi
wasallam bersabda:
أَلَا
وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ
فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah,
sesungguhnya di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia baik,
seluruh tubuh baik. Jika ia rusak, seluruh tubuh juga rusak. Ketahuilah
(segumpal daging) itu ialah hati..” (HR. Muslim).
Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah menegaskan:
الأعمال
الظاهرة لاتكون صالحة مقبولة إلا بواسط أعمال القلب، فإن القلب ملك واﻷعضاء جنوده،
فإذا خبث الملك خبثت جنوده
“Amalan
badan tidak akan diterima tanpa perantara amalan hati. Karena hati adalah raja,
sedangkan anggota badan ibarat prajuritnya. Bila Sang Raja buruk, maka akan
buruk pula seluruh prajuritnya. ” (Majmu’ Al Fatawa, 11/208).
Begitu
pula kita mengenal bahwa agama ini memiliki tiga tingkatan: Islam, kemudian di
atasnya ada Iman, kemudian di atasnya lagi ihsan. Sebagaimana dijelaskan dalam
hadis Jibril berikut:
Dari
Umar bin Khotob radhiyallahu’anhu. Beliau berkata,
بَيْنَمَا
نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ
إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ،
لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ
إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ
كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ،
فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ
إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ
الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً
قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي
عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ
وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ
فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ
لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ…
“Suatu
hari ketika kami duduk di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan
berambut sangat hitam (bersih). Tidak ada bekas-bekas perjalanan jauh (orang
asing. pent), dan tak seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Kemudian dia
duduk di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu menempelkan kedua
lututnya kepada lutut Beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di paha
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, sambil berkata, “Wahai Muhammad,
beritahukanlah kepadaku tentang Islam?”
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak
ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan
Allah, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji
jika kamu mampu,“ kemudian dia berkata, “Engkau benar.“
Kami
semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya
lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman?“
Beliau
bersabda, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya,
rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun
yang buruk.”
Dia
berkata, “Engkau benar.”
Kemudian
dia berkata lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang ihsan.”
Beliau
menjawab, “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu
melihat-Nya. Jika kamu tidak merasa begitu, (ketahuilah) bahwa Dia melihatmu…”
(HR. Muslim)
Syaikh
Abdul Muhsin Al Abbad –hafizhohullah– (ahli hadits dari kota Madinah) menerangkan
saat membahas hadis di atas,
فالدرجات
ثلاث: أولها: درجة الإسلام، ثم تليها درجة الإيمان، ثم تليها درجة الإحسان.وكل درجة
أكمل من الدرجة التي قبلها، وكل درجة داخلة في التي قبلها، فكل مؤمن مسلم، وكل محسن
مؤمن ومسلم؛ لأن درجة الإحسان هي درجة كمال، وأقل منها درجة الإيمان، وأقل منهما درجة
الإسلام
”
Tingkatan agama ini ada tiga: pertama Islam, kemudian kedua iman, lalu ihsan.
Setiap tingkatan lebih sempurna dari tingkatan sebelumnya. Dan setiap tingkatan
masuk dalam cakupan tingkatan sebelumnya. Maka setiap mukmin adalah muslim.
Setiap muhsin adalah mukmin dan juga muslim. Karena tingkatan ihsan adalah
tingkatan paling sempurna. Kemudian di bawah nya ada iman, di bawahnya lagi ada
islam.”
Dua
tingkatan diantaranya; yaitu iman dan ihsan, adalah berkaitan dengan amalan
hati. Yang mana dua hal ini berada di atas derajat Islam yang pengertiannya
adalah amalan badan. Karena Islam bila disebutkan bersamaan dengan Iman, maka
masing-masing memiliki pengertian berbeda. Yaitu Islam adalah amalan badan,
sedang Iman adalah amalan hati.
Kemudian
bukti selanjutnya bahwa amalan hati lebih besar nilainya daripada amalan badan
adalah, pokok-pokok atau pondasi agama ini ada pada amalan hati. Seperti cinta
kepada Allah dan RasulNya, tawakkal, rojaa‘ (rasa
harap), khosyah (rasa takut disertai ilmu), ikhlas, sabar, syukur.
(Lihat: Majmu’ Al Fatawa: 5/10)
Dalam
hadits Qudsi disebutkan, dimana Rasulullah shallallahu’alaihi
wasallam meriwayatkan dari Robb-nya, Allah ta’ala berfirman,
أنا
أغني الشركاء عن الشرك, فمن عمل عملا أشرك فيه معي غيري تركته و شركه
“Aku
paling tidak butuh pada sekutu. Barangsiapa mengerjakan suatu amalan dalam
keadaan menyekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersam dengan
sekutunya.” (HR Bukhari dan Muslim)
Hadis
di atas sebagai dalil bahwa amalan hati lebih besar kedudukannya daripada
amalan badan. Karena amalan badan tidak akan berguna bila seorang berlaku
syirik, sebanyak apapun amalannya. Baik syirik kecil apalagi syirik besar.
Seperti
seorang sedekah karena riya’ (dan riya ini letaknya di hati), maka akan
sia-sialah pahala. Sebesar apapun nominal sedekah yang ia keluarkan. Atau
membaca Al Qur’an supaya dipuji suaranya oleh orang-orang (sum’ah). Ini juga
akan sia-sia pahalanya. Meski sebagus apapun lantunan suaranya.
Para
ulama juga menjelaskan, bahwa besar kecilnya pahala, berkaitan erat dengan
keadaan niat dalam hati seseorang. Ini juga bukti bahwa amalan hati memiliki
kedudukan yang tinggi. Bisa jadi amalan kecil menjadi besar nilai pahalanya
disebabkan oleh niat. Bisa jadi pula amalan besar menjdi kecil pahalanya
disebabkan oleh niat. Sebagaimana dijelaskan oleh Abdullah bin Mubaarak:
رب
عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية
“Boleh
jadi amalan kecil, namun pahalanya menjadi besar karena faktor niat
(keikhlasan). Dan bisa jadi amalan besar menjadi kecil nilai pahalanya
disebabkan oleh niat.”
Demikian
pula dosa. Dosa kecil akan menjadi besar, bila dilakukan disertai rasa
menyepelekan. Dan dosa besar akan lenyap bila pelakunya merasa bersalah,
menyesal, beristighfar dan bertaubat kepada Allah. Semua ini kaitannya dengan
hati. Oleh karena itu para ulama mengatakan:
لاصغيرة
مع الاستمرار ولا كبيرة مع الاستغفار
“Tidak
ada dosa kecil bila dilakukan secara terus-menerus. Dan tidak ada dosa besar
bila ditutupi dengan istighfar. ”
Kesimpulannya adalah hati itu mempunyai peran yang sangat penting untuk
kehidupan manusia, oleh karena itu kita sebagai manusia harus bisa menjaga hati
jangan sampai di nodai oleh sifat-sifat yang nantinya akan merugikan diri kita
sendiri, jadi inget lagu debu yang liriknya seperti ini jagalah hati jangan kau
nodai jagalah hati lentera hidup ini kurang lebihnya seperti itu, terima kasih
semoga bermanfaat untuk kita semua.