Gunung Semeru atau Gunung Meru adalah
sebuah gunung berapi kerucut di Jawa Timur, Indonesia.
Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa, dengan
puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Gunung Semeru
juga merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Gunung
Kerinci di Sumatera dan
Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Kawah di
puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko. Gunung Semeru
secara administratif termasuk dalam wilayah dua kabupaten, yakni Kabupaten
Malang dan Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Gunung ini
termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Gunung ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo
Tengger Semeru. Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas
50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain;
Gn.Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn.Watangan (2.662m)
Gn.Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu): Ranu
Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo dan Ranu Darungan.
Semeru mempunyai kawasan hutan Dipterokarp
Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan
Ericaceous atau hutan gunung. Posisi geografis Semeru terletak antara
8°06' LS dan 112°55' BT.
Secara umum iklim di wilayah gunung Semeru termasuk type
iklim B (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 927 mm - 5.498 mm per tahun
dengan jumlah hari hujan 136 hari/tahun dan musim hujan jatuh pada bulan
November - April. Suhu udara dipuncak Semeru berkisar antara 0 - 4 derajat
celsius.
Suhu rata-rata berkisar antara 3°c - 8°c pada malam dan dini
hari, sedangkan pada siang hari berkisar antara 15°c - 21°c. Kadang-kadang pada
beberapa daerah terjadi hujan salju kecil yang terjadi pada saat perubahan
musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya. Suhu yang dingin disepanjang rute
perjalanan ini bukan semata-mata disebabkan oleh udara diam tetapi didukung
oleh kencangnya angin yang berhembus ke daerah ini menyebabkan udara semakin
dingin.
Flora yang berada di wilayah Gunung Semeru beraneka ragam
jenisnya tetapi banyak didominir oleh pohon cemara, akasia, pinus, dan
jenis Jamuju. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominir
oleh Kirinyuh, alang-alang, tembelekan, harendong dan
Edelwiss putih, Edelwiss yang banyak terdapat di lereng-lereng menuju puncak
Semeru. Dan juga ditemukan beberapa jenis anggrek endemik yang hidup
di sekitar Semeru Selatan.
Banyak fauna yang menghuni gunung Semeru antara
lain : macan
kumbang, budeng, luwak, kijang, kancil, dll. Sedangkan di
Ranu Kumbolo terdapat belibis yang masih hidup liar.
Pendaki pertama
Orang pertama yang mendaki gunung ini adalah Clignet (1838)
seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda dari sebelah barat daya
lewat Widodaren, selanjutnya Junhuhn (1945) seorang ahli botani berkebangsaan
Belanda dari utara lewat gunung Ayek-ayek, gunung Inder-inder dan gunung
Kepolo. Tahun 1911 Van Gogh dan Heim lewat lereng utara dan setelah 1945
umumnya pendakian dilakukan lewat lereng utara melalui Ranupane dan Ranu
Kumbolo seperti sekarang ini.
Soe Hok Gie, salah seorang tokoh aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas
Sastra Universitas Indonesia, meninggal di Gunung Semeru pada
tahun 1969 akibat menghirup asap beracun di Gunung Semeru. Dia
meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Dan baru-baru ini
kabar meninggalnya pendaki Gunung Semeru kembali tersiar. Chandra
Hasan (33) warga Kelurahan Jatinegara, Kecamatan
Cakung, Jakarta Timur, meninggal dunia dalam pendakian ke Semeru,
Senin (3/10/2016).
Rute pendakian

Rute dari Malang merupakan jalur yang banyak dilewati para
pendaki Gunung Semeru. Rute perjalanan bisa dimulai dari Kota Malang, Tumpang,
Poncokusumo, Gubuk Klakah, Ngadas, dan Ranupane. Jarak tempuh untuk melewati
jalur ini kurang lebih memakan waktu tiga hingga empat jam. Sepanjang
perjalanan, pendaki akan disuguhi pemandangan pegunungan yang sejuk dan jalan
berliku serta jurang yang dalam di kanan-kiri.
Sementara dari Lumajang, meski jalur ini terbilang lebih
singkat, namun kurang populer di kalangan pendaki. Dengan jarak tempuh hanya
satu hingga dua jam saja, jalur ini bisa dimulai dari Lumajang, Senduro, dan
Bumi Ranupane. Dari Ranupane, ada beberapa tahapan rute pendakian untuk menuju
Puncak Semeru, yaitu:

Ranupane – Ranu Kumbolo
Ada dua jalur yang biasa digunakan, pertama jalur melalui
Gunung Ayek-Ayek dan jalur melalui Watu Rejeng. Jalur pertama meski tergolong
singkat, namun memiliki medan yang berat sehingga tidak begitu populer.
Sementara, jalur melalui Watu Rejeng terkesan lebih bersahabat dan sudah
dikembangkan untuk kepentingan wisata. Jarak tempuh jalur ini memakan waktu
empat hingga lima jam.
Ranu Kumbolo – Kalimati
Jalur ini akan melewati Tanjakan Cinta, Oro-Oro Ombo, Cemoro
Kandang, dan Jambangan. Waktu tempuh antara Ranu Kumbolo hingga Kalimati kurang
lebih tiga jam. Di kawasan Kalimati, terdapat sumber air yang dapat ditempuh 60
menit pulang-pergi.

Kalimati – Arcopodo
Dari Kalimati, para pendaki bisa melanjutkan perjalanan ke
Arcopodo dalam waktu sekitar satu jam. Kawasan ini dinamakan Arcopodo karena
konon ditemukan dua buah arca yang sama. Arcopodo sendiri merupakan tanah datar
yang cukup untuk mendirikan empat tenda. Kawasan ini juga seringkali dijadikan
camp terakhir sebelum summit attack.
Arcopodo – Puncak Mahameru
Jalur pendakian dari Arcopodo menuju Puncak Mahameru
merupakan trek terberat. Trek jalur ini berupa pasir yang labil sehingga
menyulitkan pergerakan kaki. Karena itu, pendaki sangat disarankan menggunakan
gaiter untuk melindungi sepatu agar tidak kemasukan pasir. Sementara, jarak
tempuh dari Arcopodo ke Puncak Mahameru berkisar empat hingga enam jam,
tergantung kekuatan fisik masing-masing pendaki.
Berikut estimasi jarak dan waktu tempuh rute pendakian
Gunung Semeru.
|
Jalur Pendakian
|
Jarak Tempuh
|
Waktu Tempuh
|
|
Ranupane – Landengan Dowo
|
3 km
|
1,5 jam
|
|
Landengan Dowo – Watu Rejeng
|
3 km
|
1,5 jam
|
|
Watu Rejeng – Ranu Kumbolo
|
4,5 km
|
2 jam
|
|
Ranu Kumbolo – Oro-Oro Ombo
|
1 km
|
30 menit
|
|
Oro-Oro Ombo – Cemoro Kandang
|
1,5 km
|
30 menit
|
|
Cemoro Kandang – Jambangan
|
3 km
|
30 menit
|
|
Jambangan – Kalimati
|
2 km
|
30 menit
|
|
Kalimati – Arcopodo
|
1,2 km
|
2,5 jam
|
|
Arcopodo – Cemoro Tunggal – Puncak Mahameru
|
1,5 km
|
3 – 4 jam
|
Letusan Gunung Semeru
Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring
Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 m hingga akhir
November 1973. Disebelah selatan, kubah ini mendobrak tepi kawah
menyebabkan aliran lava mengarah ke sisi selatan meliputi daerah Pronojiwo dan Candipuro di Lumajang.
Di puncak Gunung Semeru (Puncak Mahameru) pendaki disarankan untuk tidak
menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah
selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Gas beracun
ini dikenal dengan sebutan Wedhus Gembel (Bahasa Jawa yang
berarti "kambing gimbal", yakni kambing yang berbulu seperti
rambut gimbal) oleh penduduk setempat.
Terjadi letusan Wedus Gembel setiap 15-30 menit pada puncak
gunung Semeru yang masih aktif. Pada bulan November 1997 Gunung Semeru meletus sebanyak
2990 kali. Siang hari arah angin menuju puncak, untuk itu hindari datang siang
hari di puncak, karena gas beracun dan letusan mengarah ke puncak.
Letusan berupa asap putih, kelabu sampai hitam dengan tinggi
letusan 300-800 meter. Material yang keluar pada setiap letusan
berupa abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas menyala yang
sangat berbahaya apabila pendaki terlalu dekat. Pada awal
tahun 1994 lahar panas mengaliri lereng selatan Gunung Semeru dan
telah memakan beberapa korban jiwa, walaupun pemandangan sungai panas yang
berkelok- kelok menuju ke laut ini menjadi tontonan yang sangat
menarik.
Legenda Gunung semeru
Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab
kuna Tantu Pagelaran yang berasal dari abad ke-15, pada dahulu
kala Pulau Jawa mengambang di lautan luas, terombang-ambing dan senantiasa
berguncang. Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara
memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa.
Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura
raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara
Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya
pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.
Dewa-Dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama
pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung
itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka
memindahkannya ke bagian timur pulau Jawa. Ketika gunung Meru dibawa ke timur,
serpihan gunung Meru yang tercecer menciptakan jajaran pegunungan di pulau Jawa
yang memanjang dari barat ke timur. Akan tetapi ketika puncak Meru dipindahkan
ke timur, pulau Jawa masih tetap miring, sehingga para dewa memutuskan untuk
memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut.
Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama
Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa
Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang
Hyang Siwa datang ke pulau jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut,
sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa.
Lingkungan geografis pulau Jawa dan Bali memang
cocok dengan lambang-lambang agama Hindu. Dalam agama Hindu ada kepercayaan
tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah tempat bersemayam
dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung di antara bumi (manusia) dan Kayangan.
Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai
tempat kediaman Dewata, Hyang, dan mahluk halus.
Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak
Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada
para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara
tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang
menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang
Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta suci.
Referensi :
http://suryamalang.tribunnews.com/2016/10/04/pendaki-gunung-semeru-meninggal-ini-penyebabnya