SELAMAT DATANG DI ESEREKETET ASERENGENEN Aki Aki Kajepet Nini Nini Ngahenen - ESEREKETET ASERENGENEN - ESEREKETETASERENGENEN - ESEREKETET ASERENGENEN - ESEREKETET ASERENGENEN - ESEREKETET ASERENGENEN - ESEREKETET ASERENGENEN - ESEREKETET ASERENGENEN - ESEREKETET ASERENGENEN

Senin, 30 Januari 2017

TAK PERNAH MEMAHAMI


kau tak pernah memahami

perasaan yang ku rasa
bila cinta tak mengerti arti hidup tanpa cinta
kau mungkin akan meminta
untuk pergi jauh dariku
namun ku takkan rela
menerima semua ini




tak mungkin aku bisa menerima

bila harus melepasmu




jangan pernah kau sakiti
bila semua telah menghilang
aku hanyalah lelaki yang lemah karena cinta

by : p93

Rabu, 18 Januari 2017

KATA MUTIARA DARI NOVEL DAN FILM " 5CM "

5 cm adalah film drama Indonesia yang dirilis pada 12 Desember 2012. Film ini disutradarai Rizal Mantovani. Film ini dibintangi oleh Herjunot Ali dan Fedi Nuril. Film ini merupakan film yang diadaptasi dari sebuah novel dengan judul yang sama.

Sinopsis Film 5 cm
Genta (Fedi Nuril), Arial (Denny Sumargo), Zafran (Herjunot Ali), Riani (Raline Shah) dan Ian (Igor Saykoji) adalah lima remaja yang telah menjalin persahabatan sepuluh tahun lamanya. Mereka memiliki karakter yang berbeda-beda. Zafran yang puitis, sedikit "gila", apa adanya, idealis, agak narsis, dan memiliki bakat untuk menjadi orang terkenal. Riani yang merupakan gadis cerdas, cerewet, dan mempunyai ambisi untuk cita-citanya. Genta, pria yang tidak senang mementingkan dirinya sendiri sehingga memiliki jiwa pemimpin dan mampu membuat orang lain nyaman di sekitarnya. Arial, pria termacho di antara pemain lainnya, hobi berolah raga, paling taat aturan, namun paling canggung kenalan dengan wanita. Ian, dia memiliki badan yang paling subur dibandingkan teman-temannya, penggemar indomie dan bola, paling telat wisuda. Ada pula Dinda (Pevita Pearce) yang merupakan adik dari Arial, seorang mahasiswi cantik yang sebenarnya dicintai Zafran. Suatu hari mereka berlima merasa “jenuh” dengan persahabatan mereka dan akhirnya kelimanya memutuskan untuk berpisah, tidak saling berkomunikasi satu sama lain selama tiga bulan lamanya.
Selama tiga bulan berpisah penuh kerinduan, banyak yang terjadi dalam kehidupan mereka berlima, sesuatu yang mengubah diri mereka masing-masing untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan. Setelah tiga bulan berselang mereka berlima pun bertemu kembali dan merayakan pertemuan mereka dengan sebuah perjalanan penuh impian dan tantangan. Sebuah perjalanan hati demi mengibarkan sang saka merah putih di puncak tertinggi Jawa yaitu di puncak Mahameru di Gunung Semeru pada tanggal 17 Agustus. Sebuah perjalanan penuh perjuangan yang membuat mereka semakin mencintai Indonesia. Petualangan dalam kisah ini, bukanlah petualangan yang menantang adrenalin, demi melihat kebesaran sang Ilahi dari atas puncak gunung. Tapi petualangan ini, juga perjalanan hati. Hati untuk mencintai persahabatan yang erat, dan hati yang mencintai negeri ini. Segala rintangan dapat mereka hadapi, karena mereka memiliki impian. Impian yang ditaruh 5cm dari depan kening.
Dan ini ada kata-kata mutiara yang ada di film tersebut diantaranya yaitu :

Mimpi-mimpi kamu
Cita-cita kamu
Keyakinan kamu
Apa yang mau kamu kejar
Biarkan ia mengganggantung
Mengambang 5 cm di depan kening kamu
Dia tidak akan pernah lepas dari mata kamu
Dan kamu bawa mimpi serta keyakinan kamu itu setiap hari
Kamu lihat setiap hari
Dan percaya bahwa kamu bisa


Di atas awan puncak tertinggi Jawa,
5 sahabat, 2 cinta
Sebuah mimpi mengubah segalanya

Kemudian yang kamu perlukan hanyalah
Kaki yang akan melangkah lebih jauh dari biasanya
Tangan yang akan berbuat lebih banyak
Mata yang akan melihat lebih lama dari biasanya
Leher yang akan lebih sering mendongak
Lapisan tekad yang seribu kali lebih kuat dari baja
Dan hati yang akan lebih keras
Serta mulut yang selalu berdoa


Dan kamu akan selalu dikenang sebagai seorang
Yang masih punya mimpi serta keyakinan
Bukan hanya seonggok daging yang punya nama


Kamu akan dikenang sebagai seorang
Yang percaya pada kekuatan mimpi dan mengejarnya
Bukan seorang pemimpi saja
Bukan orang biasa saja tanpa tujuan
Mengikuti arus dan kalah dengan keadaan


Tapi seorang yang selalu percaya
Akan keajaiban mimpi, keajaiban cita-cita
Dan keajaiban manusia
Yang terkalkulasi dengan angka berapapun


Dan kamu tidak perlu bukti
Apakah mimpi-mimpi itu akan terwujud nanti
Karena kamu hanya harus mempercayainya


Bahwa kamu akan berdiri lagi ketika kamu jatuh
Bahwa kamu akan mengejarnya sampai dapat
Apapun itu
Segala keinginan, mimpi, cita-cita dan keyakinan diri


Demikian tadi beberapa Kata Mutiara Film 5 cm yang bisa kami bagikan kepada sobat. Bagaimana setelah membacanya ? Pasti akan meningkatkan semangat anda untuk selalu berusaha menggapai cita-cita. Semoga bermanfaat



GUNUNG SEMERU


Gunung Semeru atau Gunung Meru adalah sebuah gunung berapi kerucut di Jawa Timur, Indonesia. Gunung Semeru merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa, dengan puncaknya Mahameru, 3.676 meter dari permukaan laut (mdpl). Gunung Semeru juga merupakan gunung berapi tertinggi ketiga di Indonesia setelah Gunung Kerinci di Sumatera dan Gunung Rinjani di Nusa Tenggara Barat. Kawah di puncak Gunung Semeru dikenal dengan nama Jonggring Saloko. Gunung Semeru secara administratif termasuk dalam wilayah dua kabupaten, yakni Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Gunung ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.
Gunung ini masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain; Gn.Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn.Watangan (2.662m) Gn.Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu): Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo dan Ranu Darungan.
Semeru mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung. Posisi geografis Semeru terletak antara 8°06' LS dan 112°55' BT.
Secara umum iklim di wilayah gunung Semeru termasuk type iklim B (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 927 mm - 5.498 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 136 hari/tahun dan musim hujan jatuh pada bulan November - April. Suhu udara dipuncak Semeru berkisar antara 0 - 4 derajat celsius.
Suhu rata-rata berkisar antara 3°c - 8°c pada malam dan dini hari, sedangkan pada siang hari berkisar antara 15°c - 21°c. Kadang-kadang pada beberapa daerah terjadi hujan salju kecil yang terjadi pada saat perubahan musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya. Suhu yang dingin disepanjang rute perjalanan ini bukan semata-mata disebabkan oleh udara diam tetapi didukung oleh kencangnya angin yang berhembus ke daerah ini menyebabkan udara semakin dingin.
Flora yang berada di wilayah Gunung Semeru beraneka ragam jenisnya tetapi banyak didominir oleh pohon cemara, akasia, pinus, dan jenis Jamuju. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominir oleh Kirinyuh, alang-alang, tembelekan, harendong dan Edelwiss putih, Edelwiss yang banyak terdapat di lereng-lereng menuju puncak Semeru. Dan juga ditemukan beberapa jenis anggrek endemik yang hidup di sekitar Semeru Selatan.
Banyak fauna yang menghuni gunung Semeru antara lain : macan kumbang, budeng, luwak, kijang, kancil, dll. Sedangkan di Ranu Kumbolo terdapat belibis yang masih hidup liar.

Pendaki pertama
Orang pertama yang mendaki gunung ini adalah Clignet (1838) seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda dari sebelah barat daya lewat Widodaren, selanjutnya Junhuhn (1945) seorang ahli botani berkebangsaan Belanda dari utara lewat gunung Ayek-ayek, gunung Inder-inder dan gunung Kepolo. Tahun 1911 Van Gogh dan Heim lewat lereng utara dan setelah 1945 umumnya pendakian dilakukan lewat lereng utara melalui Ranupane dan Ranu Kumbolo seperti sekarang ini.
Soe Hok Gie, salah seorang tokoh aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia, meninggal di Gunung Semeru pada tahun 1969 akibat menghirup asap beracun di Gunung Semeru. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Dan baru-baru ini kabar meninggalnya pendaki Gunung Semeru kembali tersiar. Chandra Hasan (33) warga Kelurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur, meninggal dunia dalam pendakian ke Semeru, Senin (3/10/2016).

Rute pendakian
Rute dari Malang merupakan jalur yang banyak dilewati para pendaki Gunung Semeru. Rute perjalanan bisa dimulai dari Kota Malang, Tumpang, Poncokusumo, Gubuk Klakah, Ngadas, dan Ranupane. Jarak tempuh untuk melewati jalur ini kurang lebih memakan waktu tiga hingga empat jam. Sepanjang perjalanan, pendaki akan disuguhi pemandangan pegunungan yang sejuk dan jalan berliku serta jurang yang dalam di kanan-kiri.
Sementara dari Lumajang, meski jalur ini terbilang lebih singkat, namun kurang populer di kalangan pendaki. Dengan jarak tempuh hanya satu hingga dua jam saja, jalur ini bisa dimulai dari Lumajang, Senduro, dan Bumi Ranupane. Dari Ranupane, ada beberapa tahapan rute pendakian untuk menuju Puncak Semeru, yaitu:
Ranupane – Ranu Kumbolo
Ada dua jalur yang biasa digunakan, pertama jalur melalui Gunung Ayek-Ayek dan jalur melalui Watu Rejeng. Jalur pertama meski tergolong singkat, namun memiliki medan yang berat sehingga tidak begitu populer. Sementara, jalur melalui Watu Rejeng terkesan lebih bersahabat dan sudah dikembangkan untuk kepentingan wisata. Jarak tempuh jalur ini memakan waktu empat hingga lima jam.


Ranu Kumbolo – Kalimati
Jalur ini akan melewati Tanjakan Cinta, Oro-Oro Ombo, Cemoro Kandang, dan Jambangan. Waktu tempuh antara Ranu Kumbolo hingga Kalimati kurang lebih tiga jam. Di kawasan Kalimati, terdapat sumber air yang dapat ditempuh 60 menit pulang-pergi.
Kalimati – Arcopodo 
Dari Kalimati, para pendaki bisa melanjutkan perjalanan ke Arcopodo dalam waktu sekitar satu jam. Kawasan ini dinamakan Arcopodo karena konon ditemukan dua buah arca yang sama. Arcopodo sendiri merupakan tanah datar yang cukup untuk mendirikan empat tenda. Kawasan ini juga seringkali dijadikan camp terakhir sebelum summit attack.

Arcopodo – Puncak Mahameru
Jalur pendakian dari Arcopodo menuju Puncak Mahameru merupakan trek terberat. Trek jalur ini berupa pasir yang labil sehingga menyulitkan pergerakan kaki. Karena itu, pendaki sangat disarankan menggunakan gaiter untuk melindungi sepatu agar tidak kemasukan pasir. Sementara, jarak tempuh dari Arcopodo ke Puncak Mahameru berkisar empat hingga enam jam, tergantung kekuatan fisik masing-masing pendaki.


Berikut estimasi jarak dan waktu tempuh rute pendakian Gunung Semeru.

Jalur Pendakian
Jarak Tempuh
Waktu Tempuh

Ranupane – Landengan Dowo
3 km
1,5 jam
Landengan Dowo – Watu Rejeng
3 km
1,5 jam
Watu Rejeng – Ranu Kumbolo
4,5 km
2 jam
Ranu Kumbolo – Oro-Oro Ombo
1 km
30 menit
Oro-Oro Ombo – Cemoro Kandang
1,5 km
30 menit
Cemoro Kandang – Jambangan
3 km
30 menit
Jambangan – Kalimati
2 km
30 menit
Kalimati – Arcopodo
1,2 km
2,5 jam
Arcopodo – Cemoro Tunggal – Puncak Mahameru
1,5 km
3 – 4 jam

Letusan Gunung Semeru
Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 m hingga akhir November 1973. Disebelah selatan, kubah ini mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava mengarah ke sisi selatan meliputi daerah Pronojiwo dan Candipuro di Lumajang. Di puncak Gunung Semeru (Puncak Mahameru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Gas beracun ini dikenal dengan sebutan Wedhus Gembel (Bahasa Jawa yang berarti "kambing gimbal", yakni kambing yang berbulu seperti rambut gimbal) oleh penduduk setempat.
Terjadi letusan Wedus Gembel setiap 15-30 menit pada puncak gunung Semeru yang masih aktif. Pada bulan November 1997 Gunung Semeru meletus sebanyak 2990 kali. Siang hari arah angin menuju puncak, untuk itu hindari datang siang hari di puncak, karena gas beracun dan letusan mengarah ke puncak.
Letusan berupa asap putih, kelabu sampai hitam dengan tinggi letusan 300-800 meter. Material yang keluar pada setiap letusan berupa abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas menyala yang sangat berbahaya apabila pendaki terlalu dekat. Pada awal tahun 1994 lahar panas mengaliri lereng selatan Gunung Semeru dan telah memakan beberapa korban jiwa, walaupun pemandangan sungai panas yang berkelok- kelok menuju ke laut ini menjadi tontonan yang sangat menarik.

Legenda Gunung semeru
Menurut kepercayaan masyarakat Jawa yang ditulis pada kitab kuna Tantu Pagelaran yang berasal dari abad ke-15, pada dahulu kala Pulau Jawa mengambang di lautan luas, terombang-ambing dan senantiasa berguncang. Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa.
Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.
Dewa-Dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau Jawa. Ketika gunung Meru dibawa ke timur, serpihan gunung Meru yang tercecer menciptakan jajaran pegunungan di pulau Jawa yang memanjang dari barat ke timur. Akan tetapi ketika puncak Meru dipindahkan ke timur, pulau Jawa masih tetap miring, sehingga para dewa memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut. Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa.
Lingkungan geografis pulau Jawa dan Bali memang cocok dengan lambang-lambang agama Hindu. Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah tempat bersemayam dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung di antara bumi (manusia) dan Kayangan. Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewata, Hyang, dan mahluk halus.
Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta suci.

Referensi : 
http://suryamalang.tribunnews.com/2016/10/04/pendaki-gunung-semeru-meninggal-ini-penyebabnya


Selasa, 17 Januari 2017

Taman Nasional Ujung Kulon

Taman Nasional Ujung Kulon terletak di Tatar Pasundan bagian paling barat Pulau Jawa. Kawasan Taman Nasional ini juga memasukan wilayah Krakatau dan beberapa pulau kecil disekitarnya seperti Pulau Handeuleum da Pulau Peucang. Taman ini mempunyai luas sekitar 122.956 Ha yang dimulai dari Tanjung Ujung Kulon sampai dengan Samudera Hindia.
Taman Nasional ini menjadi Taman Nasional pertama yang diresmikan di Indonesia, dan juga sudah diresmikan sebagai salah satu Warisan Dunia yang di lindungi oleh UNESCO pada tahun 1991, karena wilayahnya mencakupi hutan lindung yang sangat luas. Sampai saat ni kurang lebih 50 sampai dengan 60 badak hidup di habitat ini.
Pada awalnya Ujung Kulon adalah daerah pertanian pada beberapa masa sampai akhirnya hancur lebur dan habis seluruh penduduknya ketika Gunung Krakatau meletus pada tanggal 27 Agustus 1883 yang akhirnya mengubahnya kawasan ini kembali menjadi hutan.
Izin untuk masuk ke Taman Nasional ini dapat diperoleh di Kantor Pusat Taman Nasional di Kota Labuan atau Taman Jaya.
Taman Nasional Ujung Kulon bersama Cagar Alam Krakatau merupakan asset Nasional dan telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Alam Dunia oleh UNESCO. Baca selanjutnya di sini

Jangan Lupa Buka Juga Situs Resmi Taman Nasional Ujung Kulon

BADAK JAWA / BADAK BERCULA SATU (Rhinoceros sondaicus desm)

Di bumi ini terdapat 5 spesies badak yang diketahui masih hidup di alam liar. Badak Jawa merupakan spesies paling terancam. Populasinya tinggal 50-an ekor dan hanya ditemukan di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.
Badak Jawa termasuk salah satu hewan paling langka di dunia. Perkembangan populasinya pernah mengalami titik kritis pada tahun 1960-an dimana hanya ditemukan sekitar 20 ekor. Sejak tahun 1980-an hingga saat ini perkembangan populasinya cukup stabil pada kisaran 40-60 ekor, namun jumlah ini masih riskan dari kepunahan. Idealnya harus lebih dari 500 ekor dengan sebaran habitat yang lebih luas. Saat ini habitat hidup badak jawa terbatas hanya di Taman Nasional Ujung Kulon, ujung paling barat pulau Jawa. 
Di masa lampau badak jawa tidak hanya ada di pulau Jawa, melainkan tersebar hingga ke Asia daratan mulai dari Vietnam sampai ke Benggal, India. Perburuan besar-besaran disinyalir menjadi penyebab utama penyusutan populasinya. Di Indonesia sendiri pada abad ke-18 badak jawa pernah dianggap sebagai hama yang mengganggu tanaman perkebunan. Bahkan pemerintah kolonial Belanda yang berkuasa saat itu pernah mengadakan sayembara dengan hadiah sebesar 10 gulden bagi siapa saja yang berhasil membunuhnya.

Badak Jawa atau badak bercula satu. (FOTO: satwa.net)


Taksonomi dan morfologi

Kerajaan: Animalia
Kelas: Mammalia
Bangsa: Perissodactyla
Suku: Rhinocerotidae
Marga: Rhinoceros
Spesies: Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822

Nama ilmiah Badak Jawa adalah Rhinoceros sondaicus, Penamaan itu diambil dari bahasa Yunani, “rhino” yang berarti hidung, “ceros”berarti cula. Sedangkan “sondaicus” merujuk pada kata “Sunda” yang berada di pulau Jawa. Dalam bahasa Inggris disebut Javan Rhino.
Saat ini dikenal 5 spesies badak yang masih ditemukan hidup di alam liar. Dua spesies diantaranya, yakni Badak putih dan badak hitam hidup di Afrika. Sedangkan tiga spesies lainnya yakni Badak Jawa, Badak Sumatera dan Badak India hidup di Asia. Badak Jawa memiliki satu cula sama dengan Badak India, namun ukuran tubuh Badak Jawa jauh lebih kecil.
Secara umum Badak Jawa memiliki ciri-ciri fisik sebagai berikut:
Badak Jawa termasuk ke dalam golongan binatang berkuku ganjil atau Perrisdactyla, mempunyai kulit tebal berlipat-lipat seperti perisai dari bahan tanduk sehingga satwa ini kelihatan seperti bongkah batu yang besar dan tubuhnya lebih besar dari Badak Sumatera (Dicerorhinus Sumetrensis).
Tinggi rata-rata Badak Jawa antara 140-175 cm.  Sedangkan panjang badannya  300 – 315 cm  dan adapula yang pernah ditemukan dengan panjang mencapai 392 cm.  Tebal kulitnya 25 – 30 mm, lebar kaki rata-rata 27-28 cm dan beratnya sekitar 2300 Kg.
Cula Badak Jawa jantan biasanya lebih besar dari betinanya, dimana cula Badak Jawa betina hanya berupa tonjolan di atas kepalanya (Veerers dan Carter, 1978; Prawirosudirjo, 1975) bahkan pada betina tertentu tidak memiliki cula . Panjang cula diukur mengikuti lengkungnya bisa mencapai 48 cm (Hoogerwerf, 1970). Penglihatan Badak jawa tidaklah tajam, tapi pendengarannnya maupun penciumannya sangat tajam.  Badak dapat mengetahui adanya bahaya atau musuh yang kan datang walaupun sesungguhnya bahaya atau musuh itu masih terpaut jarak jauh dengan badak tersebut (Hoogerwerf, 1970; Prawirosudirjo, 1975). Kadang-kadang badak sanggup untuk menempuh jarak 15 – 20 km dalam sehari, tetapi sebaliknya sering berada beberapa hari dalam daerah yang tidak lebih dari 0,5 km2 (Hoogerwerf, 1970). Warna tubuh abu-abu gelap hingga hitam, semakin tua warna tubuhnya semakin gelap. Sedikit berambut di bagian telinga dan ekornya sedangkan tubuhnya tidak ditumbuhi rambut.


Habitat hidup

Badak Jawa hidup di hutan-hutan tropis yang selalu hijau dengan curah hujan tinggi. Di Pulau Jawa, hewan ini pernah ditemukan di hutan-hutan dataran tinggi maupun hutan dataran rendah. Pada tahun 1939, seorang botanis kelahiran Jerman, Franz Wilhelm Junghun, pernah melaporkan melihat badak di sekitar puncak Gunung Gede.

Makan

Badak Jawa termasuk hewan herbivora, makanan utamanya hijauan berupa pucuk atau tunas tanaman. Beberapa jenis tanaman yang digemari satwa ini antara lain kedondong hutan (Spondias pinnata), segel (Dillenia excelsa), sulangkar (Leea sambucina) dan tepus (Amomum spp.). Ketersediaan tumbuhan ini cukup banyak di Taman Nasional Ujung Kulon. Belakangan diketahui juga memakan jenis tumbuhan bangban (Donax cannaeformis) yang sebelumnya tidak pernah tercatat sebagai pakan badak. Selain hijaun, seperti jenis hewan lain badak juga mengkonsumsi garam mineral yang terkandung dalam tanah atau pun air. Lebih jelasnya kita bisa lihat di tabel berikut ini :
Jenis-Jenis Tumbuhan Pakan Badak Jawa
(Rhinoceros sondaicus desm)


No.
Nama Daerah
Nama Latin
Famili
1
Areuy kilaja
Uvaria hirsute
Anonaceae
2
Areuy kikukupu
Uvaria spec
Anonaceae
3
Areuy camar
Clematis smilacifolia
Convolvulaceae
4
Areuy kacembang
Lecennanthus erubescens
Rubiaceae
5
Areuy asahan
Tetracera scandens
Dilleniaceae
6
Areuy geureung
Peroampynlus glancus
Menisferae
7
Areuy palumpung
Lepistemon binectariferum
Convulvulaceae
8
Areuy tawulu
Argreia capitata
Convulvulaceae
9
Areuy karokot
Cassus repens
Vitaceae
10
Areuy amis mata
Ficus montana
Moraceae
11
Areuy kawao
Derris thyorsifolia
Memosaceae
12
Areuy oar
Flagellaria indica
Flagellariaceae
13
Areuy balang
Entada phaseocloides
Mimosaceae
14
Areuy jaha
Rourea minor
Connaraceae
15
Areuy angrit
Kopsia spec
Apocynaceae
16
Areuy kuderang
Salacia chinensis
Celastraceae
17
Areuy tua laleur
Millettia sericea
Leguminoceae
18
Areuy kakacangan
Phaseolus spec
Papilionaceae
19
Areuy jingjing kulit
Zizypus tupula
Rhamnaceae
20
Areuy kelebahe
Uncaria spec
Rubbiaceae
21
Areuy cacingkalung
Sabia javanica
Sabiaceae
22
Areuy kalak
Uvaria lettolaris
Anonaceae
23
Bungur
Lagerstroemia speciaosa
Lythraceae
24
Bayur
Pterospermum javanica
Sterculiaceae
25
Bungbungdilang
Cassia javanica
Caesalpiniaceae
26
Bengang
Neesia altissima
Bombacaceae
27
Bisoro
Ficus hispida
Moraceae
28
Benger
Lagerstroemia flosregineae
Lithraceae
29
Bingbin
Areca pumida
Palmae
30
Bangban
Donax malabaricum
Maranthaceae
31
Bambu hijau
Bambussa sp.
Gramineae
32
Buranyai
Creteva nurvula
Cappporidaceae
33
Beunying
Ficus glamerata
Moraceae
34
Bubuay
Plectonnia mellongata
Palmae
35
Ceuri
Garcinia diodica
Guttiferae
36
Cerelang
Ptersopermum dipersifolium
Sterculiaceae
37
Calung peucang
Diospyros frustescens
Ebenaceae
38
Calik angin
Mallotus floribundus
Euphorbiaceae
39
Ciciap
Ficus septica
Moraceae
40
Cariang
Gladium bicolor
Araceae
41
Cente
Lantana camara
Verbenaceae
42
Cangkuang
Pandanus sp.
Pandanaceae
43
Cantigi
Pemphis acidula
Lytraceae
44
Culen
Aglala argentea
Meliaceae
45
Caringin
Ficus benyamina
Moraceae
46
Darangdang
Ficus obscura
Moraceae
47
Darewak
Microros tomentosa
Tiliaceae
48
Gempol
Nauclea orientalis
Rubiaceae
49
Gadog
Bicshofia javanica
Euphorbiaceae
50
Heucit
Baccaurea javanica
Euphorbiaceae
51
Heas
Eugenia polycephala
Myrtaceae
52
Hantap
Sterculia oblongata
Sterculiaceae
53
Haremeng
Cratixylon racemosum
Crassulaceae
54
Hampelas
Ficus ampelas
Moraceae
55
Hanja
Anthacephalus chinensis
Rubiaceae
56
Hanjiat
Canarium sp
Burcoraceae
57
Huni
Antidesma bunius
Euphorbiaceae
58
Haringin
Cassia alata
Casealpiniaceae
59
Hunyur buut
Kadsura scandens
Schisandraceae
60
Huru kayu
Cryptocarya ferrea
Lauraceae
61
Huru
Litzoa elleptica
Lauraceae
62
Hanjat peucang
Dysoxylum caulostachyum
Maliaceae
63
Jawura
Cearcinia dulcis
cluciaceae
64
Kitulang
Diosphyros aurea
Ebenaceae
65
Kadongdong
Spondias pinnata
Macordiaceae
66
Kilaja
Oxymitra cunnaiformis
Monoceae
67
Kikacang
Stombossia javanica
Oleaceae
68
Kopo
Eugenia subglauca
Myrtaceae
69
Kilangir
Clusocheton microcarpus
Maliaceae
70
Kicalung
Diospyros macrophylla
Ebenaceae
71
Kiapu
Sapaium faccatum
Euphorbiaceae
72
Kiteja
Cinnamamum iners
Lauraceae
73
Kidahu
Drocotamelon puberulum
Anacardiaceae
74
Kigeunteul
Diospyros javanica
Ebenaceae
75
Katulampa
Clancocarpus glabra
Elascarpaceae
76
Kitanah
Xauthoxylum obessal
Rutaceae
77
Kinyere badak
Bradelia monoros
Euphorbiaceae
78
Kilalayu
Lepisannthus tetraphylla
Sapindaceae
79
Kitanjung
Saccapetalum heterophylla
Anonaceae
80
Kapol
Ammomum compactum
Zingiberaceae
81
Kibiawak
Leea rubra
Vitaceae
82
Kijaha
Croton argyratus
Euphorbiaceae
83
Kilutung
Diospyros cauliflora
Ebenaceae
84
Kinangsi
Villlebrunea ruberscens
Urticaceae
85
Kidangdeur
Bombax mallabaricum
Bombacaceae
86
Kendal
Cordia subcordata
Barraganaceae
87
Kileho
Sauranea sp.
Sapotaceae
88
Kibungbulang
Sophora famentosa
Sapotaceae
89
Kibuaya
Leea angulata
Vitaceae
90
Leles
Ficus retusa
Moraceae
91
Lame
Alstonia angustifolia
Apocynaceae
92
Lame peucang
Alstonia angustifolia
Apocynaceae
93
Lowa
Ficus glomerata
Moraceae
94
Leungsir
Pometia pinnata
Sapindaceae
95
Lame koneng
Alstonia scholaris
Apocynaceae
96
Lampeni
Ardisia humilis
Myrsinaceae
97
Lametang
Cordia nyxa
Barraganaceae
98
Lampeni badak
Ardisia lurida
Myrsinaceae
99
Laban
Vitex pubescens
Verbenaceae
100
Laban laut
Vitex negundo
Verbenaceae
101
Malapari
Pongamia pinnata
Leguminoceae
102
Manggu leuweung
Garcinia celebrica
Guttiferae
103
Nanangkaan
Plenochenella obovata
Sapotaceae
104
Nampong
Eupatorium odoratum
Compositae
105
Pulus
Laportea stimulans
Urticaceae
106
Padali
Radernancera gigantea
Bignoniaaceae
107
Pinango
Chicocheton sp.
Meliaceae
108
Putat
Phirinium repens
Marantaceae
109
Parasi
Curculigo onchicides
Amarilidaceae
110
Pangsor
Ficus collosa
Moraceae
111
Peuris
Aporosa aurita
Euphorbiaceae
112
Pining
Hersteditia spec
Zingiberaceae
113
Reuheun
Glochidion zeylanicum
Euphorbiaceae
114
Rengas
Gluto rengas
Macardiaceae
115
Rukem
Flocourita rukem
Floccurtiaceae
116
Randu badak
Dentecla spec
Rubiaceae
117
Randu leuweung
Cossampinus hepotaphylla
Meraceae
118
Rotan seel
Daemonorops melanochaetes
Palmae
119
Rotan sampang
Calamus sp.
Palmae
120
Rotan pela
Calamus sp.
Palmae
121
Rotan buluh
Calamus sp.
Palmae
122
Rotan gelang
Bactris guinenssis
Palmae
123
Rotan patis
Calamus sp.
Palmae
124
Rotan sati
Calamus sp.
Palmae
125
Rotan tunggal
Calamus sp.
Palmae
126
Rotan cacing
Calamus javensis
Palmae
127
Segel
Dillenia excelsa
Dilleniaceae
128
Sempur
Dillenia indica
Dilleniaceae
129
Sulangkar
Leea sambucina
Vitaceae
130
Salam
Eugenia poliantha
Myrtaceae
131
Sigeung
Pentara poliantha
Tiliaceae
132
Songgom
Barringtonia macrocarpa
Lecithydaceae
133
Salak
Zalacca edulis
Palmae
134
Sayar
Coryota mitis
Arecaceae
135
Sariawan rumput
Mimosa sp.
Mimosaceae
136
Seuheun
Orophea anncandra
Anonaceae
137
Seucang
Caesalpinia sappan
Caesalpiniaceae
138
Teureup
Artocarpus elastica
Moraceae
139
Taritih
Drypetes sumatrana
Euphorbiaceae
140
Tokbrai
Blumeodendron tokbrai
Meliaceae
141
Taritih bodas
Memocylon oleafolium
Alastomasceae
142
Tongtolok
Pterocymbium javanicum
Struciliaceae
143
Tulak tunggul
Myristica gultheriifolia
Myrtaceae
144
Tudung sayong
Xerospermum noronhianum
Sapindaceae
145
Turalak
Stelechocarpus burahol
Anonaceae
146
Tepus
Ammomum coccium
Zingiberaceae
147
Talingkup
Glaoxylon polat
Euphorbiaceae
148
Tulang kotok
Callicarpus longifolia
Verbenaceae
149
Waru
Hibiscus tiliaceus
Malvaceae
150
Waru lot
Thespesia populnes
Malvaceae
151
Wareng
Rondia patula
Rubiaceae

Reproduksi

Badak Jawa hidup sekitar 30-40 tahun. Setiap kehamilan biasanya mengandung hanya 1 anak. Tidak diketahui dengan pasti berapa lama Badak Jawa mengandung, tetapi diperkirakan selama 15-16 bulan. Begitu juga dengan rentang antara kehamilan, namun diperkirakan sekitar 2-3 tahun.
Sosial
Badak Jawa hewan yang soliter alias penyendiri, tak pernah ditemukan berkelompok. Bahkan di habitat aslinya di Ujung Kulon, keberadaannya amat jarang dijumpai. Bukti-bukti kehidupannya diketahui dari jejak-jejak dan kamera tersembunyi. Salah satu kegemarannya berkubang di dalam air atau lumpur.

ANCAMAN TERBESAR

1. Bencana alam dan wabah penyakit

Habitat badak jawa yang hanya terkonsentrasi di kawasan Ujung Kulon menjadi masalah tersendiri mengingat kawasan ini sangat rentan dengan bencana alam. Pada tahun 1883 Gunung Krakatau yang berada di lepas pantai Ujung Kulon pernah meletus dan menimbulkan bencana gempa dan tsunami hebat yang meluluhlantakkan kawasan. Letusan tersebut menyisakan anak krakatau yang hingga kini masih aktif dan sewaktu-waktu bisa meletup kembali. Demikian juga dengan ancaman wabah penyakit, bila pada suatu waktu ada wabah yang menyerang badak bukan tidak mungkin semua badak yang ada di Ujung Kulon bisa terkena dampaknya.

2. Persaingan dengan tanaman invasif (langkap)

Tanaman invasif langkap (Arenga obtusifolia) mengancam populasi badak jawa lewat ketersediaan pakan. Langkap adalah tanaman sejenis palem-paleman yang sering dijadikan bahan baku pembuatan gula aren. Di Ujung Kulon tanaman ini mendesak tanaman lain yang menjadi pakan badak. Penanganan terhadap ancaman ini dilakukan dengan mengurangi populasi tanaman langkap. Dari beberapa percobaan pengurangan 50% populasi langkap bisa meningkatkan ketersediaan pakan badak. Meski hanya bertahan 1-2 tahun sebelum tanaman langkap kembali mendominasi.

3. Penurunan kualitas genetik

Ancaman juga datang dari penurunan kualitas genetis akibat kecilnya populasi sehingga mudah terjadi inbreeding. Hal ini biasa terjadi pada mahluk hidup yang populasinya terbatas dan hidup dalam satu area sehingga kemungkinan terjadinya inbreeding tinggi. Inbreeding berhubungan dengan kelangsungan hidup populasi karena sering menimbulkan tekanan daya tahan hidup, berat kelahiran dan kesuburan. Untuk menghindari inbreeding diperlukan ukuran populasi minimum yang mampu bertahan hidup (minimum viable population). Untuk mempertahankan populasi Badak Jawa dalam jangka panjang setidaknya diperlukan populasi sebanyak 500 ekor.

Sumber & Referensi
  1. Situs Resmi Taman Nasional Ujung Kulon http://ujungkulon.org/tentang-tnuk/potensi-sda-tnuk/fauna
  2. Situs Resmi Taman Nasional Ujung Kulon  http://ujungkulon.org/tentang-tnuk/potensi-sda-tnuk/fauna/93
  3. Sudarsono Djuri. Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus) Salah Satu Titipan Tuhan bagi Bangsa Indonesia. Seri: Mengenal Fauna Langka.
  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Letusan_Krakatau_1883
  5. Foto : Badak Jawa atau badak bercula satu. (FOTO: satwa.net)