SELAMAT DATANG DI ESEREKETET ASERENGENEN Aki Aki Kajepet Nini Nini Ngahenen - ESEREKETET ASERENGENEN - ESEREKETETASERENGENEN - ESEREKETET ASERENGENEN - ESEREKETET ASERENGENEN - ESEREKETET ASERENGENEN - ESEREKETET ASERENGENEN - ESEREKETET ASERENGENEN - ESEREKETET ASERENGENEN

Selasa, 17 Januari 2017

BADAK JAWA / BADAK BERCULA SATU (Rhinoceros sondaicus desm)

Di bumi ini terdapat 5 spesies badak yang diketahui masih hidup di alam liar. Badak Jawa merupakan spesies paling terancam. Populasinya tinggal 50-an ekor dan hanya ditemukan di kawasan Taman Nasional Ujung Kulon.
Badak Jawa termasuk salah satu hewan paling langka di dunia. Perkembangan populasinya pernah mengalami titik kritis pada tahun 1960-an dimana hanya ditemukan sekitar 20 ekor. Sejak tahun 1980-an hingga saat ini perkembangan populasinya cukup stabil pada kisaran 40-60 ekor, namun jumlah ini masih riskan dari kepunahan. Idealnya harus lebih dari 500 ekor dengan sebaran habitat yang lebih luas. Saat ini habitat hidup badak jawa terbatas hanya di Taman Nasional Ujung Kulon, ujung paling barat pulau Jawa. 
Di masa lampau badak jawa tidak hanya ada di pulau Jawa, melainkan tersebar hingga ke Asia daratan mulai dari Vietnam sampai ke Benggal, India. Perburuan besar-besaran disinyalir menjadi penyebab utama penyusutan populasinya. Di Indonesia sendiri pada abad ke-18 badak jawa pernah dianggap sebagai hama yang mengganggu tanaman perkebunan. Bahkan pemerintah kolonial Belanda yang berkuasa saat itu pernah mengadakan sayembara dengan hadiah sebesar 10 gulden bagi siapa saja yang berhasil membunuhnya.

Badak Jawa atau badak bercula satu. (FOTO: satwa.net)


Taksonomi dan morfologi

Kerajaan: Animalia
Kelas: Mammalia
Bangsa: Perissodactyla
Suku: Rhinocerotidae
Marga: Rhinoceros
Spesies: Rhinoceros sondaicus Desmarest, 1822

Nama ilmiah Badak Jawa adalah Rhinoceros sondaicus, Penamaan itu diambil dari bahasa Yunani, “rhino” yang berarti hidung, “ceros”berarti cula. Sedangkan “sondaicus” merujuk pada kata “Sunda” yang berada di pulau Jawa. Dalam bahasa Inggris disebut Javan Rhino.
Saat ini dikenal 5 spesies badak yang masih ditemukan hidup di alam liar. Dua spesies diantaranya, yakni Badak putih dan badak hitam hidup di Afrika. Sedangkan tiga spesies lainnya yakni Badak Jawa, Badak Sumatera dan Badak India hidup di Asia. Badak Jawa memiliki satu cula sama dengan Badak India, namun ukuran tubuh Badak Jawa jauh lebih kecil.
Secara umum Badak Jawa memiliki ciri-ciri fisik sebagai berikut:
Badak Jawa termasuk ke dalam golongan binatang berkuku ganjil atau Perrisdactyla, mempunyai kulit tebal berlipat-lipat seperti perisai dari bahan tanduk sehingga satwa ini kelihatan seperti bongkah batu yang besar dan tubuhnya lebih besar dari Badak Sumatera (Dicerorhinus Sumetrensis).
Tinggi rata-rata Badak Jawa antara 140-175 cm.  Sedangkan panjang badannya  300 – 315 cm  dan adapula yang pernah ditemukan dengan panjang mencapai 392 cm.  Tebal kulitnya 25 – 30 mm, lebar kaki rata-rata 27-28 cm dan beratnya sekitar 2300 Kg.
Cula Badak Jawa jantan biasanya lebih besar dari betinanya, dimana cula Badak Jawa betina hanya berupa tonjolan di atas kepalanya (Veerers dan Carter, 1978; Prawirosudirjo, 1975) bahkan pada betina tertentu tidak memiliki cula . Panjang cula diukur mengikuti lengkungnya bisa mencapai 48 cm (Hoogerwerf, 1970). Penglihatan Badak jawa tidaklah tajam, tapi pendengarannnya maupun penciumannya sangat tajam.  Badak dapat mengetahui adanya bahaya atau musuh yang kan datang walaupun sesungguhnya bahaya atau musuh itu masih terpaut jarak jauh dengan badak tersebut (Hoogerwerf, 1970; Prawirosudirjo, 1975). Kadang-kadang badak sanggup untuk menempuh jarak 15 – 20 km dalam sehari, tetapi sebaliknya sering berada beberapa hari dalam daerah yang tidak lebih dari 0,5 km2 (Hoogerwerf, 1970). Warna tubuh abu-abu gelap hingga hitam, semakin tua warna tubuhnya semakin gelap. Sedikit berambut di bagian telinga dan ekornya sedangkan tubuhnya tidak ditumbuhi rambut.


Habitat hidup

Badak Jawa hidup di hutan-hutan tropis yang selalu hijau dengan curah hujan tinggi. Di Pulau Jawa, hewan ini pernah ditemukan di hutan-hutan dataran tinggi maupun hutan dataran rendah. Pada tahun 1939, seorang botanis kelahiran Jerman, Franz Wilhelm Junghun, pernah melaporkan melihat badak di sekitar puncak Gunung Gede.

Makan

Badak Jawa termasuk hewan herbivora, makanan utamanya hijauan berupa pucuk atau tunas tanaman. Beberapa jenis tanaman yang digemari satwa ini antara lain kedondong hutan (Spondias pinnata), segel (Dillenia excelsa), sulangkar (Leea sambucina) dan tepus (Amomum spp.). Ketersediaan tumbuhan ini cukup banyak di Taman Nasional Ujung Kulon. Belakangan diketahui juga memakan jenis tumbuhan bangban (Donax cannaeformis) yang sebelumnya tidak pernah tercatat sebagai pakan badak. Selain hijaun, seperti jenis hewan lain badak juga mengkonsumsi garam mineral yang terkandung dalam tanah atau pun air. Lebih jelasnya kita bisa lihat di tabel berikut ini :
Jenis-Jenis Tumbuhan Pakan Badak Jawa
(Rhinoceros sondaicus desm)


No.
Nama Daerah
Nama Latin
Famili
1
Areuy kilaja
Uvaria hirsute
Anonaceae
2
Areuy kikukupu
Uvaria spec
Anonaceae
3
Areuy camar
Clematis smilacifolia
Convolvulaceae
4
Areuy kacembang
Lecennanthus erubescens
Rubiaceae
5
Areuy asahan
Tetracera scandens
Dilleniaceae
6
Areuy geureung
Peroampynlus glancus
Menisferae
7
Areuy palumpung
Lepistemon binectariferum
Convulvulaceae
8
Areuy tawulu
Argreia capitata
Convulvulaceae
9
Areuy karokot
Cassus repens
Vitaceae
10
Areuy amis mata
Ficus montana
Moraceae
11
Areuy kawao
Derris thyorsifolia
Memosaceae
12
Areuy oar
Flagellaria indica
Flagellariaceae
13
Areuy balang
Entada phaseocloides
Mimosaceae
14
Areuy jaha
Rourea minor
Connaraceae
15
Areuy angrit
Kopsia spec
Apocynaceae
16
Areuy kuderang
Salacia chinensis
Celastraceae
17
Areuy tua laleur
Millettia sericea
Leguminoceae
18
Areuy kakacangan
Phaseolus spec
Papilionaceae
19
Areuy jingjing kulit
Zizypus tupula
Rhamnaceae
20
Areuy kelebahe
Uncaria spec
Rubbiaceae
21
Areuy cacingkalung
Sabia javanica
Sabiaceae
22
Areuy kalak
Uvaria lettolaris
Anonaceae
23
Bungur
Lagerstroemia speciaosa
Lythraceae
24
Bayur
Pterospermum javanica
Sterculiaceae
25
Bungbungdilang
Cassia javanica
Caesalpiniaceae
26
Bengang
Neesia altissima
Bombacaceae
27
Bisoro
Ficus hispida
Moraceae
28
Benger
Lagerstroemia flosregineae
Lithraceae
29
Bingbin
Areca pumida
Palmae
30
Bangban
Donax malabaricum
Maranthaceae
31
Bambu hijau
Bambussa sp.
Gramineae
32
Buranyai
Creteva nurvula
Cappporidaceae
33
Beunying
Ficus glamerata
Moraceae
34
Bubuay
Plectonnia mellongata
Palmae
35
Ceuri
Garcinia diodica
Guttiferae
36
Cerelang
Ptersopermum dipersifolium
Sterculiaceae
37
Calung peucang
Diospyros frustescens
Ebenaceae
38
Calik angin
Mallotus floribundus
Euphorbiaceae
39
Ciciap
Ficus septica
Moraceae
40
Cariang
Gladium bicolor
Araceae
41
Cente
Lantana camara
Verbenaceae
42
Cangkuang
Pandanus sp.
Pandanaceae
43
Cantigi
Pemphis acidula
Lytraceae
44
Culen
Aglala argentea
Meliaceae
45
Caringin
Ficus benyamina
Moraceae
46
Darangdang
Ficus obscura
Moraceae
47
Darewak
Microros tomentosa
Tiliaceae
48
Gempol
Nauclea orientalis
Rubiaceae
49
Gadog
Bicshofia javanica
Euphorbiaceae
50
Heucit
Baccaurea javanica
Euphorbiaceae
51
Heas
Eugenia polycephala
Myrtaceae
52
Hantap
Sterculia oblongata
Sterculiaceae
53
Haremeng
Cratixylon racemosum
Crassulaceae
54
Hampelas
Ficus ampelas
Moraceae
55
Hanja
Anthacephalus chinensis
Rubiaceae
56
Hanjiat
Canarium sp
Burcoraceae
57
Huni
Antidesma bunius
Euphorbiaceae
58
Haringin
Cassia alata
Casealpiniaceae
59
Hunyur buut
Kadsura scandens
Schisandraceae
60
Huru kayu
Cryptocarya ferrea
Lauraceae
61
Huru
Litzoa elleptica
Lauraceae
62
Hanjat peucang
Dysoxylum caulostachyum
Maliaceae
63
Jawura
Cearcinia dulcis
cluciaceae
64
Kitulang
Diosphyros aurea
Ebenaceae
65
Kadongdong
Spondias pinnata
Macordiaceae
66
Kilaja
Oxymitra cunnaiformis
Monoceae
67
Kikacang
Stombossia javanica
Oleaceae
68
Kopo
Eugenia subglauca
Myrtaceae
69
Kilangir
Clusocheton microcarpus
Maliaceae
70
Kicalung
Diospyros macrophylla
Ebenaceae
71
Kiapu
Sapaium faccatum
Euphorbiaceae
72
Kiteja
Cinnamamum iners
Lauraceae
73
Kidahu
Drocotamelon puberulum
Anacardiaceae
74
Kigeunteul
Diospyros javanica
Ebenaceae
75
Katulampa
Clancocarpus glabra
Elascarpaceae
76
Kitanah
Xauthoxylum obessal
Rutaceae
77
Kinyere badak
Bradelia monoros
Euphorbiaceae
78
Kilalayu
Lepisannthus tetraphylla
Sapindaceae
79
Kitanjung
Saccapetalum heterophylla
Anonaceae
80
Kapol
Ammomum compactum
Zingiberaceae
81
Kibiawak
Leea rubra
Vitaceae
82
Kijaha
Croton argyratus
Euphorbiaceae
83
Kilutung
Diospyros cauliflora
Ebenaceae
84
Kinangsi
Villlebrunea ruberscens
Urticaceae
85
Kidangdeur
Bombax mallabaricum
Bombacaceae
86
Kendal
Cordia subcordata
Barraganaceae
87
Kileho
Sauranea sp.
Sapotaceae
88
Kibungbulang
Sophora famentosa
Sapotaceae
89
Kibuaya
Leea angulata
Vitaceae
90
Leles
Ficus retusa
Moraceae
91
Lame
Alstonia angustifolia
Apocynaceae
92
Lame peucang
Alstonia angustifolia
Apocynaceae
93
Lowa
Ficus glomerata
Moraceae
94
Leungsir
Pometia pinnata
Sapindaceae
95
Lame koneng
Alstonia scholaris
Apocynaceae
96
Lampeni
Ardisia humilis
Myrsinaceae
97
Lametang
Cordia nyxa
Barraganaceae
98
Lampeni badak
Ardisia lurida
Myrsinaceae
99
Laban
Vitex pubescens
Verbenaceae
100
Laban laut
Vitex negundo
Verbenaceae
101
Malapari
Pongamia pinnata
Leguminoceae
102
Manggu leuweung
Garcinia celebrica
Guttiferae
103
Nanangkaan
Plenochenella obovata
Sapotaceae
104
Nampong
Eupatorium odoratum
Compositae
105
Pulus
Laportea stimulans
Urticaceae
106
Padali
Radernancera gigantea
Bignoniaaceae
107
Pinango
Chicocheton sp.
Meliaceae
108
Putat
Phirinium repens
Marantaceae
109
Parasi
Curculigo onchicides
Amarilidaceae
110
Pangsor
Ficus collosa
Moraceae
111
Peuris
Aporosa aurita
Euphorbiaceae
112
Pining
Hersteditia spec
Zingiberaceae
113
Reuheun
Glochidion zeylanicum
Euphorbiaceae
114
Rengas
Gluto rengas
Macardiaceae
115
Rukem
Flocourita rukem
Floccurtiaceae
116
Randu badak
Dentecla spec
Rubiaceae
117
Randu leuweung
Cossampinus hepotaphylla
Meraceae
118
Rotan seel
Daemonorops melanochaetes
Palmae
119
Rotan sampang
Calamus sp.
Palmae
120
Rotan pela
Calamus sp.
Palmae
121
Rotan buluh
Calamus sp.
Palmae
122
Rotan gelang
Bactris guinenssis
Palmae
123
Rotan patis
Calamus sp.
Palmae
124
Rotan sati
Calamus sp.
Palmae
125
Rotan tunggal
Calamus sp.
Palmae
126
Rotan cacing
Calamus javensis
Palmae
127
Segel
Dillenia excelsa
Dilleniaceae
128
Sempur
Dillenia indica
Dilleniaceae
129
Sulangkar
Leea sambucina
Vitaceae
130
Salam
Eugenia poliantha
Myrtaceae
131
Sigeung
Pentara poliantha
Tiliaceae
132
Songgom
Barringtonia macrocarpa
Lecithydaceae
133
Salak
Zalacca edulis
Palmae
134
Sayar
Coryota mitis
Arecaceae
135
Sariawan rumput
Mimosa sp.
Mimosaceae
136
Seuheun
Orophea anncandra
Anonaceae
137
Seucang
Caesalpinia sappan
Caesalpiniaceae
138
Teureup
Artocarpus elastica
Moraceae
139
Taritih
Drypetes sumatrana
Euphorbiaceae
140
Tokbrai
Blumeodendron tokbrai
Meliaceae
141
Taritih bodas
Memocylon oleafolium
Alastomasceae
142
Tongtolok
Pterocymbium javanicum
Struciliaceae
143
Tulak tunggul
Myristica gultheriifolia
Myrtaceae
144
Tudung sayong
Xerospermum noronhianum
Sapindaceae
145
Turalak
Stelechocarpus burahol
Anonaceae
146
Tepus
Ammomum coccium
Zingiberaceae
147
Talingkup
Glaoxylon polat
Euphorbiaceae
148
Tulang kotok
Callicarpus longifolia
Verbenaceae
149
Waru
Hibiscus tiliaceus
Malvaceae
150
Waru lot
Thespesia populnes
Malvaceae
151
Wareng
Rondia patula
Rubiaceae

Reproduksi

Badak Jawa hidup sekitar 30-40 tahun. Setiap kehamilan biasanya mengandung hanya 1 anak. Tidak diketahui dengan pasti berapa lama Badak Jawa mengandung, tetapi diperkirakan selama 15-16 bulan. Begitu juga dengan rentang antara kehamilan, namun diperkirakan sekitar 2-3 tahun.
Sosial
Badak Jawa hewan yang soliter alias penyendiri, tak pernah ditemukan berkelompok. Bahkan di habitat aslinya di Ujung Kulon, keberadaannya amat jarang dijumpai. Bukti-bukti kehidupannya diketahui dari jejak-jejak dan kamera tersembunyi. Salah satu kegemarannya berkubang di dalam air atau lumpur.

ANCAMAN TERBESAR

1. Bencana alam dan wabah penyakit

Habitat badak jawa yang hanya terkonsentrasi di kawasan Ujung Kulon menjadi masalah tersendiri mengingat kawasan ini sangat rentan dengan bencana alam. Pada tahun 1883 Gunung Krakatau yang berada di lepas pantai Ujung Kulon pernah meletus dan menimbulkan bencana gempa dan tsunami hebat yang meluluhlantakkan kawasan. Letusan tersebut menyisakan anak krakatau yang hingga kini masih aktif dan sewaktu-waktu bisa meletup kembali. Demikian juga dengan ancaman wabah penyakit, bila pada suatu waktu ada wabah yang menyerang badak bukan tidak mungkin semua badak yang ada di Ujung Kulon bisa terkena dampaknya.

2. Persaingan dengan tanaman invasif (langkap)

Tanaman invasif langkap (Arenga obtusifolia) mengancam populasi badak jawa lewat ketersediaan pakan. Langkap adalah tanaman sejenis palem-paleman yang sering dijadikan bahan baku pembuatan gula aren. Di Ujung Kulon tanaman ini mendesak tanaman lain yang menjadi pakan badak. Penanganan terhadap ancaman ini dilakukan dengan mengurangi populasi tanaman langkap. Dari beberapa percobaan pengurangan 50% populasi langkap bisa meningkatkan ketersediaan pakan badak. Meski hanya bertahan 1-2 tahun sebelum tanaman langkap kembali mendominasi.

3. Penurunan kualitas genetik

Ancaman juga datang dari penurunan kualitas genetis akibat kecilnya populasi sehingga mudah terjadi inbreeding. Hal ini biasa terjadi pada mahluk hidup yang populasinya terbatas dan hidup dalam satu area sehingga kemungkinan terjadinya inbreeding tinggi. Inbreeding berhubungan dengan kelangsungan hidup populasi karena sering menimbulkan tekanan daya tahan hidup, berat kelahiran dan kesuburan. Untuk menghindari inbreeding diperlukan ukuran populasi minimum yang mampu bertahan hidup (minimum viable population). Untuk mempertahankan populasi Badak Jawa dalam jangka panjang setidaknya diperlukan populasi sebanyak 500 ekor.

Sumber & Referensi
  1. Situs Resmi Taman Nasional Ujung Kulon http://ujungkulon.org/tentang-tnuk/potensi-sda-tnuk/fauna
  2. Situs Resmi Taman Nasional Ujung Kulon  http://ujungkulon.org/tentang-tnuk/potensi-sda-tnuk/fauna/93
  3. Sudarsono Djuri. Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus) Salah Satu Titipan Tuhan bagi Bangsa Indonesia. Seri: Mengenal Fauna Langka.
  4. https://id.wikipedia.org/wiki/Letusan_Krakatau_1883
  5. Foto : Badak Jawa atau badak bercula satu. (FOTO: satwa.net)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar